Minggu, 16 Maret 2014

MAHKAMAH KONSTITUSI

HUKUM ACARA PERADILAN
MAHKAMAH KONSTITUSI

Oleh : Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra

mahkamah konstitusi republic Indonesia adalah lembaga (tinggi) Negara yang baru dan sederajat serta sama tinggi kedudukannya dengan mahkamah agung (MA), menurut ketentuan undang-undang dasar Negara republik Indonesia tahun1945 pasca perubahan keempat, dalam struktur kelembagaan republic Indonesia terdapat (setidaknya) 9 (Sembilan) buah organ Negara yang secara langsung menerima kewenangan langsung dari undang-undang dasar, kesembilan organ tersebut adalah :
(i)                   Dewan perwakilan rakyat
(ii)                 dewan perwakilan daerah
(iii)                majelis permusyawaratan rakyat
(iv)               Badan pemeriksa keuangan
(v)                 presiden
(vi)               wakil presiden
(vii)              mahkamah agung
(viii)            mahkamah konstitusi dan
(ix)               komisi yudisial

disamping kesembilan lembaga tersebut, terdapat pula beberapa lembaga atau institusi yang diatur kewenangannya dalam UUD, yaitu :
A.      kepolisian republic Indonesia
B.      pemerintahan daerah
C.      tentara nasional Indonesia
D.      partai politik

mahkamah konstitusi dapat dikatakan berada pada kedudukan yang sederajat dan sama tinggi dengan mahkamah agung, mahkamah konstitusi dan mahkamah agung sama-sama merupakan pelaksana cabang kekuasaan kehakiman(judiciary), yang merdeka dan terpisah dengan cabang kekuasaan lain yaitu pemerintah (executive) dan lembaga permusyawaratan perwakilan (legislative), kedua mahkamah ini sama-sama berkedudukan hukum di ibukota Negara republik Indonesia, hanya struktur kedua organ kekuasaan kehakiman ini berbeda sama sekali satu sama lain, mahkamah konstitusi sebagai lembaga peradilan tingkat pertama dan terakhir tidak mempunyai struktur organisasi sebesar mahkamah agung yang merupakan puncak system peradilan yang strukturnya bertingkat secara vertical dan horizontal mencakup lima lingkungan peradilan yaitu lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan tata usaha Negara, lingkungan peradilan agama, dan lingkungan peradilan militer.
        pembentukan mahkamah konstitusi sendiri, dianggap perlu dilakukan saat itu mengingat perubahan mendasar atas UUD 1945 dari perubahan pertama hingga perubahan keempat UUD 1945,bahwa bangsa kita telah mengadopsikan prinsip-prinsip baru dalam system ketatnegaraan yaitu antara lain prinsip pemisahan kekuasaan dan check and balances, sebagai pengganti system supremasi parlemen yang berlaku sebelumnya, sebagai akibat perubahan tersebut maka perlu diadakan mekanisme untuk memutus kewenangn yang mungkin terjadi antar lembaga yang satu sama lain sederajat, yang kewenangannya diatur dalam UUD, perlu dilembagakan adanya peranan hukum dan hakim yang dapat mengontrol proses dan produk keputusan-keputusan politik yang hanya mendasarkan diri pada prinsip “the rule of majority”, karena itu, fungsi-fungsi judicial review atas konstitusionalisme undang-undang dan proses pengujian hukum atas tuntutan pemberhentian terhadap presiden dan atau wakil presiden dikaitkan dengan fungsi MK, disamping itu juga diperlukan adanya mekanisme untuk memutuskan berbagai persengketaan yang timbul, yang tidak dapat diselesaikan melalui proses peradilan biasa, seperti sengketa hasil pemilu dan tuntutan pembubaran suatu partai politik, perkara-perkara semacam ini berkaitan erat dengan hak dan kebebasan para warga Negara dalam dinamika system politik demokratis yang dijamin oleh UUD, sehingga MK lah menanggung kewenangan tersebut,

HAK UJI MATERIIL DAN FORMIL

Pengertian hak menguji terlebih dahulu diposisikan terhadap istilah atau term dari judicial review itu sendiri, sebab ahli hukum pada umumnya acapkali terjebak dalam penggunaan istilah constitutional review , judicial review dan hak menguji (Toestingsrecht), konsepsi judicial review hadir dalam kerangka objek yang lebih luas dibandingkan dengan konsep constitutional review, yang hanya sebatas pengujian konstitusional suatu aturan hukum terhadap konstitusi (UUD), sedangkan judicial review memiliki objek pengujian yang lebih luas, bisa menyangkut legalitas peraturan dibawah UU terhadap UU, tidak hanya sekedar UU terhadap UUD, akan tetapi pada segi subjek pengujinya, makna judicial review mengalami penyempitan sebab judicial review hanya dapat dilakukan melalui mekanisme peradilan (Judiciary), yang dilaksanakan oleh para hakim sedangkan sedangkan jika constitutional review dapat dilaksanakan olwh lwmbaga peradilan (judicial review), lembaga legislative(legislative review), lembaga eksekutif(executive review) atau lembaga lainnya yang ditunjuk untuk melaksanakan fungis tersebutm pemberian hak uji inilah yang menjadi pengertian dari Toetsingsrecht ,  judicial review hanya berlaku jika pengujian dilakukan terhadap norma hukum yang bersifat abstrak dan umum (general and abstract norms) secara “a posterior” artinya norma hukum tersebut telah diundangkan oleh pembentuk undang-undang,
apabila diartikan kata per kata tanpa mengaitkannya dengan system hukum lain maka dapat diartikan sebagai berikut:
1.       Toestingsrecht
Toesting (menguji dalam bahasa belanda), Recht (hukum / hak), Toestingrecht berarti hak dan kewenangan untuk menguji tergantung kepada system hukum di tiap-tiap Negara masing-masing untuk diberikan kepada siapa atau lembaga mana, (orientasinya ialah ke constitutional eropa/belanda & jerman), hak menguji (toestingsrecht) baik dalam kepustakaan maupun praktek dikenal adanya dua macam hak menguji (toestingrecht) yaitu :
A.      hak menguji formal (formele toestingsrecht) : wewenang untuk menilai suatu produk legislative seperti undang-undang, dalam proses pembuatannya melalui cara-cara sebagaimana telah ditentukan / diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku atau tidak, pengujian formal terkait dengan masalah prosdural dan berkenaan dengan legalitas kompetensi institusi yang membuatnya,
hak menguji formal adalah wewenang untuk menilai apakah suatu prduk legislative seperti undang-undang misalnya terjelma melalui cara-cara (procedure) sebagaimana telah di tentukan atau diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku atau tidak, contohnya : undang-undang adalah produk yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat (pasal 20 amandemen UUD 1945), Presiden berhak untuk mengajukan rancangan undang-undang kepada dewan perwakilan rakyat dan setiap rancangan undang-undang akan dibahas bersama untuk memperoleh persetujuan bersama (Pasal 5 Jo 20 ayat (2) amandemen UUD 1945), Jadi setiap undang-undang haruslah melalui prosedur tersebut agar sah menjadi undang-undang,
B.      Hak menguji material (material Toestingrecht) : suatu wewenang menyelidiki dan menilai apakah isi suatu peraturan perundang-undangan itu sesuai atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi derajatnya (lex superior derogate lex inferiori), serta apakah suatu kekuasaan tertentu (Verordenende Macht) berhak mengeluarkan suatu peraturan tertentu, pengujian material berkaitan dengan kemungkinan pertentangan materi suatu peraturan dengan peraturan lain yang lebih tinggi ataupun menyangkut kekhususan-kekhususan yang dimiliki suatu aturan dibandingkan norma-norma yang berlaku umum,

“ menurut Prof. Harun Alrasid, hak menguji formal ialah mengenai prosedur pembuatan undang-undang dan hak menguji material ialah mengenai kewenangan pembuat UU dan apakah isinya bertentangan atau tidak dengan peraturan yang kedudukannya lebih tinggi ”
jadi pada dasarnya fungsi hak menguji materiil adalah berupa fungsi pengawasan yaitu agar materi (isi) peraturan perundang-undangan yang lebih rendah kedudukannya tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang secara hierarchi jauh lebih tinggi, dan yang paling utama ialah agar peraturan perundang-undangan dibawah UUD tidak bertentangan dengan UUD sebagai “supreme of law” dalam hal ini, agar UUD terproteksi, maka keberadaan hal menguji materiil sebagai bagian dari “the guarantees of the constitution”,
bahwa UUD sebagai hukum tertulis tertinggi harus menjadi sumber dari pembentukan setiap peraturan perundang-undangan dibawahnya, secara a contrario peraturan perundang-undangan dibawah UUD tidak boleh menyimpangi , bertentangan atau tidak konsisten dengan UUD, keberadaan hak menguji materiil pada hakekatnya berupa alat control atau pengendali terhadap kewenangan suatu peraturan perundang-undangan , jika ada pendapat yang menyatakan hak menguji materiil berkaitan dengan konsep trias politica maka hal tersebut adalah suatu kekeliruan, karena berdasarkan konsep “trias politica” khusunya konsep “separation of power” , fungsi suatu badan tidak dibenarkan melakukan intervensi terhadap badan kekuasaan lain, bahwa hak menguji materiil adalah koreksi terhadap konsepsi “separation of power” yang keberadaannnya lebih relevan digantikan dengan konsepsi “check and balances”,

Sabtu, 15 Maret 2014

SEJARAH ISLAM YANG TERLUPA

THE TRUE KNIGHT

SULTAN MUHAMMAD AL FATEH


PERNAHKAH KITA MENDENGAR NAMA NAPOLEON BONAPARTE ?
ATAU GENGHIS KHAN ? ATAU KAISAR JUSTINIANUS ? MARCUS AURELIUS ?

JIKA IYA,
MAKA PERNAHKAH KITA MENDENGAR NAMA SULTAN MUHAMMAD AL-FATEH ?


yap, miris ketika sedikit dari kita bahkan tak pernah mendengar namanya, padahal itu adalah bagian dari sejarah islam namun malah kita sendiri yang melabelkan diri sebagai islam justru tidak mengenalnya, semua konspirasi pembodohan pada umat kita jelas tak dapat terus menerus mengakar hingga kita dibutakan tentang betapa hebat agama kita, kita di racun dengan perspektif ala barat yang tentu mengedepankan tokoh-tokoh mereka dalam bait demi bait sejarah,

tidakkah kalian terrlitegun saat kukatakan bahwa muhammad al-fateh ialah dia yang jauh sebelum kelahirannya bahkan telah disiratkan rasulullah muhammad saw, dirinya di isyaratkan oleh rasulullah ketika menggali parit khandaq

"constantinopel (kini istanbul) akan jatuh ketangan tentara islam, sebaik-baiknya pemimpin/amar ialah amarnya dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukannya "

lantas hal tersebut diriwayatkan dalam hadis riwayat imam ahmad, hadis yang lantas terealisasi 800 tahun setelahnya, ialah muhammad al-fateh, khalifah ke-tujuh kerajaan usmaniyyah,

 tentu banyak pertanyaan terlintas dalam benak kita tentang seberapa penting ia dalam perjalanan sejarah islam?,

sejak diriwayatkannya perihal apa yang disampaikan rasulullah, maka sejak saat itu pulalah muslimin bertekad untuk memperoleh kehormatan yang disampaikan rasulullah saw terhadap pemimpin yang kelak akan menaklukan konstantinopel, namun tak satu pun mampu menembus pertahanan berlapis-lapis benteng konstantinopel yang pada masanya disebut-sebut tak mungkin tertembus, benteng dan para bala pasukan konstantinopel yang telah mengguratkan tinta emasnya dalam menaklukkan setiap musuh-nya jelas tidak semudah itu bagi muslimin untuk menaklukakn konstantinopel,
As-Syahid Abu Ayyub Al-Ansari, sahabat besar Rasulullah SAW telah dimakamkan di bawah dinding kubu Kota Constantinople, dan apabila ditanya mengapa beliau mewasiatkan sebegitu, beliau menjawab, “Kerana aku ingin mendengar derapan tapak kaki kuda sebaik-baik raja yang mengetuai sebaik-baik tentera semasa mereka membebaskan Constantinople nanti.”  Sungguh, rijal itu benar-benar bakal mengotakan impian menawan Kota Constantinople dengan mengimamkan hampir 150,000 orang tenteranya.

Apakah kelebihan dan rahsia Baginda Sultan Muhammad atau lebih masyhur dengan gelaran Muhammad The Conqueror?

Baginda telah menerima asuhan dari kecil sehingga baginda yakin bahawa bagindalah raja yang disebut dalam hadis Rasulullah. Dengan sentuhan tarbiah menyeluruh oleh ayahanda baginda Sultan Murad II dan guru-gurunya termasuk Syeikh Amad Shamsuddin yang mengajar ilmu agama dan berkaitan dunia pemerintahan. Baginda juga menguasai dan fasih berbahasa  Turki, Arab, Latin, Greek, Serbia (bahasa ibu Baginda), Parsi dan Hebrew.

Baginda dilatih supaya mahir memanah, menunggang kuda dan menyusun taktik perang. Kepintaran baginda dalam mengatur strategi dan mencipta peralatan termoden diperakui oleh sejarawan barat setelah melihat kehebatan Sultan Muhammad di medan perang.

Peperangan terhadap Kota Constantinople berlaku disebabkan Raja Rom yang memerintah pada waktu itu enggan menyerahkan kota tersebut. Maka tentera Uthmaniyah dengan diketuai oleh baginda Sultan Muhammad mula menyerang kubu dari segenap penjuru. Baginda sebelum itu menyampaikan khutbah melarang gereja, tempat-tempat ibadah lain diroboh dan tidak mengapa-apakan paderi, orang kurang upaya dan yang sudah tua serta mereka yang tidak membunuh.

Apabila sebuah rantai besar dibina menghalang kapal-kapal merentasi Selat Bosphorus, baginda mendapat akal untuk melancarkan kapal perang melalui jalan darat dan gunung sejauh hampir enam batu. Alangkah terkejut Raja Byzantine keesokan harinya, bukan sahaja Teluk El Qarn El Zahabi (The Golden Horn) dipenuhi kapal-kapal muslimin bahkan armada bantuan dari Ketua Paderi Rom kesemuanya musnah terbakar. Rentetan daripada itu kubu pertahanan menipis sehingga akhirnya dengan izin Allah pihak tentera Uthmaniyah berjaya menawan Kota Constantinople pada 28 Mei 1453 bersamaan 857H.

Baginda dengan tawaduk penuh kesyukuran atas kejayaan membebaskan Kota Constantinople. Setelah itu Baginda menukar namanya kepada Islambol (Islam keseluruhan) dan memerintahkan agar separuh Gereja besar St. Sophies diubahsuai menjadi masjid yang terkenal Aya Sofiya. Gelaran ‘Al-Fatih’ amat sesuai kerana Baginda telah menang membuka Constantinople. Sebuah pembukaan agung yang ditunggu sejak 800 ratus tahun sebelumnya.

Sejak baligh Baginda tidak pernah meninggalkan solat fardhu, Solat Sunat Rawatib dan Solat Tahajjud. Inilah hasil didikan Syeikh Amad Shamsuddin. Inilah dia sebaik-baik raja yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah s.a.w di dalam hadisnya itu.

Masha Allah. Satu contoh rijal hebat pernah tercatat dalam sejarah dunia. Hanya pada usia 21 tahun mampu merealisasikan cita-cita tingginya, juga cita-cita seluruh umat sejak berzaman sebelum itu. Cerita Sultan Muhammad Al Fatih mengajar muslimin beberapa tips kejayaan antaranya ‘al-akhzu bil asbab‘(mengambil sebab) dengan usaha gigih dan strategi bijak serta persiapan dan peralatan tercanggih. Membina meriam besar yang mampu membedil kubu sejauh satu batu dan menara bergerak tiga tingkat, diperbuat daripada kayu, tingginya melebihi dinding kubu dan memuatkan ratusan tentera merupakan seni peperangan yang amat hebat.

Sebagai raja yang mengimamkan ribuan muslimin, baginda sentiasa tenang, sabar, peka dan prihatin terhadap tentera bawahannya. Baginda sentiasa merujuk kepada guru-gurunya baik dalam urusan agama atau permasalahan negara. Baginda juga sentiasa menghembus semangat kepada para tenteranya dengan kemenangan yang telah Allah janjikan.





















KETIKA GENERASI MUDA BICARA POLITIK


TEMA :     KETIKA GENERASI MUDA BICARA POLITIK

KEARIFFAN & Generasi muda tonggak revolusioner politik bangsa

original Writter by : Gusti D Hedwic

          Apakah remaja ( generasi muda ) diangap boleh berbicara mengenai perpolitikan mengingat banyaknya anggapan bahwa politik hanya diperuntukkan bagi orang dewasa ?
Tentu agak membingungkan bagi kita mencoba untuk memaparkan sekedar jawaban sederhana mengenai hal ini sebab jika pertanyaannya adalah boleh atau tidak maka tentu sah-sah saja dan boleh tentunya mengingat hal ini pun termaktub dalam UUD 1945 sebagaimana setiap orang berhak untuk mengemukakan pendapat termasuk jika konteksnya adalah berbicara (memberikan pendapat) mengenai perpolitikan dimana politik sebetulnya merupakan ruang lingkup yang identik dengan sarana bagaimana mendengar dan mengemukakakan pendapat,
            Namun jika beralih pada apakah generasi muda cukup ber-intelegensi memadai dalam memahami dan berbicara mengenai perpolitikan tentu itu jadi soal lain, seperti halnya masalah pada anggapan bahwa politik hanya diperuntukkan bagi orang dewasa saja,
Jika kita coba menilik permasalahan lebih dalam maka, tidakkah usia bukan tolak ukur kedewasaan dalam konteks berpendapat ? dan sudah konsumsi publik jika mereka para generasi yang dapat dikatakan tidak lagi muda, yang mendominasi perpolitikkan bangsa kita pun tidak pula menunjukkan kearifan dan kedewasaan dalam praktik politiknya,



RENTANG USIA BUKAN JAMINAN KEARIFAN DALAM PERPOLITIKKAN

            Kita tahu jika salah satu masalah utama yang memberikan citra buruk dalam dunia politik adalah keegoisan, ketidak-arif-an, kemunafikan, kepentingan golongan dan deretan kata buruk lainnya berakhiran “-an” yang terlalu banyak sehingga sulit untuk disebutkan,
Dan ke-arif-an adalah episentrum pembahasannya yang jelas sekali tercermin jika mereka para generasi yang tak lagi muda pun masih kadang tak menyikapi suatu hal sesuai taraf usia mereka, pepatah yang mengatakan “ semakin tua akan membimbing kita semakin dewasa dan bijaksana(arif)” ternyata ya hanya sekedar pepatah saja dan seringkali nampak tanpa makna di dunia perpolitikkan.
            Bagaimana mereka menyikapi suatu permasalahan atau ketika terjadi konflik ? nyatanya kadang justru tak ada bedanya dengan tawuran yang terjadi dikalangan pelajar, kerutan di wajah mereka jadi tak bergores sejajar dengan tingkah laku yang ditunjukannnya,
            Ditambah lagi dengan keadaan perpolitikkan pada para generasi muda yang kadang  justru tidak cukup diberi ruang serta kesempatan dan cenderung diremehkan dalam praktik perpolitikkan, era berubah dan masyarakat bangsa kita cukup sudah disuguhkan banyak drama pasang surut dan sofisme saat mereka para politikus bangsa justru membohongi publik dan terlebih lagi membohongi dirinya sendiri dalam setiap pendapatnya...dalam tutur kata yang kadang jelas sekali terasa penuh kepentingan dan pembelaan atas dasar pribadi kelompok politik tertentu yang tak lagi menilik apakah itu benar atau justru keliru, lantas tidak cukup pantaskah jika memberikan generasi muda bangsa kesempatan ?, Sesuatu yang mungkin memberikan kita dan dunia sekedar harapan baru diantara zaman kelam perpolitikkan yang mulai kehilangan kepercayaan masyarakatnya itu.
            Tak dapat dipungkiri jika gejolak perpolitikkan memberikan pengaruh besar terhadap banyak indikator pembangunan suatu bangsa, memberikan pengaruh terhadap alur kebijakan , substansi dan langkah-langkah perekonomian serta mempengaruhi asumsi dan ketenangan dalam kehidupan masyarakat dimana harusnya generasi muda ikut andil didalamnya,


Namun relevan-kah atau pantaskah ? apakah mereka para generasi muda cukup punya pemahaman mengenai perpolitikkan ?.
            Lantas jika sebegitu pentingnya pemahaman bagi mereka untuk kita para generasi muda agar dapat berada dalam ruang lingkup politik bukankah harusnya pertanyaan itu juga dibalikkan untuk mereka tanyakan pada diri mereka sendiri apakah mereka cukup menyadari jika seluruh pemegang panji perpolitikkan bangsa kita saat ini adalah orang-orang yang punya pemahaman memadai atau bahkan lebih mengenai dunia perpolitikkan,
Mereka yang melindungi pribadi, rekan elit politiknya yang melakukan tindak pengkhianatan terhadap bangsa dengan korupsi,manipulasi dan aksi tipu-tipu sana sini bukannya orang-orang yang tidak punya pemahaman bukan ?, mereka tahu,mereka paham tapi mereka terjerat arus ,tak mampu bertahan untuk tidak terlibat dan tenggelam terlalu dalam,
Inilah titik dimana sebetulnya kita para generasi muda harus andil dan ikut angkat suara, bangsa kita butuh uluran tangan kita....uluran tangan yang tidak berpikir pada siapa dan dengan kepentingan apa.
            Generasi yang datang tidak dengan pengalaman atau pengenalan mengenai tata cara dan budaya yang berkembang dalam perpolitikkan kita yang tak sedikit justru berisi prosedur mengkhianati kepercayaan rakyat namun kita yang berpegang pada pikiran tidak matang yang tidak berarti jauh dari kebenaran,
            Akan tiba saat dimana kita-lah yang akan merengkuh tanggung jawab itu, tanggung jawab atas sang pertiwi yang semakin renta dan lapuk, kita harus mulai melihat realitanya saudaraku.....perpolitikkan bangsa kita yang seolah hanya mengenal dua kata yang jadi pengaruh yaitu kepentingan dan uang meski tak pula dapat kita munafikkan jika masih tersisa segelintir orang jujur dengan dedikasi dan tetap berpegang teguh untuk jadi setitik lentera diantara gelap gulita,
Namun.....kumohon garis bawahi mengenai apa yang kusebut tentang setitik lentera, masih tersisa ? tentu saja masih tersisa meski hanya segelintir saja yang tetap fasih berjuang demi kesejahteraan banyak orang demi nusantara yang selalu mereka cinta, demi keluarga dan martabat mereka sebagai seorang manusia dan demi kepercayaan yang diamanatkan padanya.
            Tapi tidakkah semua itu cukup berarti adanya ? diantara kegelapan “lingkaran setan” perpolitikkan dan para politikus negeri kita di senayan sana, hahaha....tentu saja, setidaknya ada yang tersisa meski tentu tak dapat terlalu mengubah banyak,
            Disadari atau tidak politik sudah jadi lahan basah bagi banyak orang untuk terjun didalamnya, mendasari dirinya pada tujuan dan cita-cita mulia pada awalnya....berlagak jadi santo yang mungkin membuatnya merasa bersayap dan bercahaya layaknya mentari di pagi buta, tapi tidak dalam hati mereka....atau malah kemudian karena keadaan pada akhirnya mengubah sudut pandang itu, presumption of innocence, right ? jelas kita coba menganggap jika keadaan yang mengubah para politikus menjadi benar-benar tikus bukan karena memang rasa jahat dan tamak sejak awal tertanam pada dirinya.
            Dunia bernama politik kini ya hanya sekedar pertempuran kepentingan, dimana kekuasaan dan harta kekayaan adalah tolak ukur dari tujuan sesungguhnya,
Menghalalkan segala cara termasuk mengorbankan siapa saja yang bisa dikorbankan, jelas sekali pepatah lama yang mengatakan jika “ manusia adalah serigala bagi lainnya” sangat tercermin disana.
            Dan sudah bukan lagi hal yang tabu jika melihat para politisi di satu hari berseteru dan dihari lain malah berubah saling mendukung, atau di satu hari jadi pahlawan dengan deretan prestasi yang dipaparkan dalam talk show media televisi dan di hari lain masuk berita kriminal karena tersandung kasus korupsi,
            Dan akhir kata mungkin dengan suara sayup nan sok bijaksana akan kukatakan jika.... 
“ inilah politik bung......sisi lain dunia yang kadang nampak agak gila ”
            Dan satu saran terakhirku adalah......
“jika kau memutuskan untuk andil dalam dunia perpolitikan, cobalah tanyakan ini terlebih dahulu sebelum setiap tindakanmu......apakah yang kau lakukan ini benar ? lantas benar untuk siapa ? kebenaran untuk dirimu ? atau untuk semua orang ? ”



REALITA HIDUP, PERNAHKAH KITA SEKEDAR BERTANYA ?


HIDUP ?
THATS LIFE FOR ME ?
WHAT IS THE LIFE ?

original Writter by : Gusti D hedwic



WHAT DO YOU MEAN ABOUT LIFE ? sebuah pertanyaan sederhana yang butuh lebih dari sekedar intelegensi tapi juga penalaran hati untuk menjawabnya, dan akan makan ribuan kosakata mendeskripsikan satu saja yang terlintas dalam pikiran kita……, kehidupan hanyalah secerca lembaran kisah , bait-bait cerita tentang kita ….drama yang memaksa kita sejenak bertanya , “ lantas kita akan berperan jadi apa ? ”.
Seiring perjalanan waktu melintasi setiap masa yang kutahu dari revolusi hingga reformasi dan nyaris globalisasi yang  hanya mengungkap satu demi satu retorika serta problematika yang sebelumnya tak ada, sesuatu yang mereka sebut realita meski sebenarnya omong kosong saja,
Entah bagaimana kita teracuni dengan semua persepsi yang mereka jejali, deretan sudut pandang yang hanya arahkan kita pada rangkaian kesimpulan bahwa inilah kenyataan,  dunia dimana uang, jabatan dan kedudukan adalah tolak ukur utama yang dapat membeli senyuman,rasa segan , pujian dan penghormatan serta menciptakan sekat perbedaan dan kesenjangan social antar satu dan lainnya dalam kehidupan,
Pernahkah terpikir ? hanya begini sajakah alur cerita yang digariskan tuhan untuk manusia- manusia seperti kita….? Salahkah jika sejenak saja kita berpikir menembus jagad raya , layangkan cita dan segenap impian kita hingga batas cakrawala ?. itu segelintir hal yang salah tentang dunia kita , bahwa kita terlalu terpaku pada realita dan terjebak dalam keadaan nyata yang mendikte kita tentang apa yang bisa dan dapat kita lakukan mengingat kita hanyalah rakyat jelata, dianggap tiada daya, bahkan nyaris tiada guna….terus hidup dengan kesempitan yang harus diderita,bahwa impian sekedar bagi mereka yang terlahir dengan rentetan keberuntungan dengan uang, harta , juga kekayaan dan tidaklah diperuntukan bagi mereka yang malang dalam lajur kemiskinan.
Tidak, impian adalah milik siapa saja yang mau berusaha……hahaha, quote of the day …omong kosong yang seringkali jadi topping , sebatas aksen membosankan pada halaman terdepan sebuah majalah maupun Koran atau  kata ampuh para motivator untuk meredam sejenak keluh dan memberikan audiens harapan semu,
                Percayalah semua kata-kata itu memang tak mengubah apa-apa, sebab sudah terlalu luar biasanya doktrin “gila “ yang membudaya dalam cultural umat manusia sehingga kita sungguh terperangkap dalam retorika yang membatasi langkah kita.
Kita terlahir sebagai seorang individu yang kemudian seiring berjalannya waktu terbangunlah karakteristik humanistic yang merupakan result atas segala pengaruh dan bagaimana sistematika hidup di sekitar kita, entah itu keluarga atau orang-orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Disanalah kita mulai mengenal tentang norma , kaidah dan aturan untuk menjadi pribadi dalam sosialitas kehidupan ….. pondasi yang akan menopang kita secara psikologis dalam kehidupan, lensa yang membuat kita dapat membedakan sekat antara ketidak patutan dan kebenaran.
Dan pada tahap selanjutnya kita kemudian mempelajari semua yang penalarannya lebih kepada hal-hal diluar diri kita, sekolah tempat dimana kita belajar mengenal dunia dalam berbagai sudut pandang berbeda…..  juga memahami sekat yang membuat satu dan lainnya tak sama, darisanalah kita mengenal beberapa hal yang memang berbeda bukan sesuatu yang dibuat berbeda dan bertoleransi serta menyikapinya sebagai bagian dari retorika hidup kita .
                Namun setelah semua proses panjang yang menjadikan kita Nampak seperti manusia sesungguhnya, ras terhebat yang pernah ada, kita dihadapkan pada dunia yang terlalu berbeda dengan semua ilustrasi buku yang selama ini mengajarkan kita untuk menatap jauh……sebagai individu dewasa kita terpaksa mencerna ketidak berdayaan kita menghadapi masalah lumrah yang menjadi batu sandungan para pemimpi lain sebelum era kita, uang, gejolak keuangan, dan keharusan bekerja demi kelangsungan hidup keluarga, sungguh dilema ! “dulu kutinggalkan dunia untuk ilmu dan sekarang dunia yang menghampiriku” said hasan hito (ulama dunia ) hahaha……kita memang bisa saja meninggalkan seisi dunia untuk terus belajar menuntut ilmu dan mengejar cita dan impian kita tapi pertanyaanya adalah tegakah kita berpangku tangan atas nasib keluarga dan penderitaan yang mungkin dialami mereka atas apa yang kita lakukan.
Ini adalah titik dimana kita terpaksa menyerah pada retorika dunia ,sementara atau selamanya….tergantung pada tumpuan pilihan kita,namun kita tahu bahwa dunia pada akhirnya hanya menyisakan segelintir saja yang dapat bertahan dan melalui semua halang rintang yang ada. Sisa lainnya terseret arus dan terbelenggu derasnya hingga ke hulu.
                Tidak, hidup tak hanya sekedar tentang menjalani alur yang ada dan menganggapnya sebagai garis takdir kita, berjalan pada jalan sama seperti mereka lainnya, pada sebuah ekspektasi rendah dengan terpaku meratapi semua ketidak berdayaan kita menghadapi dunia dan jutaan goliath diluar sana.

                Entah bagaimana kita kehilangan hal terpenting dari hakikat kita sebagai manusia,bahkan harusnya mereka para manusia mulai mempertanyakan masih pantaskah sebutan itu melekat pada diri mereka,
Manusia kini hanya sekumpulan mahluk berkaki dua, yang buta…..dapat melihat dunia tapi buta tentang arti keberadaan mereka sebenarnya didunia,
Tidakkah retorika yang ada justru hanya mempersempit persepsi dan sudut pandang kita tentang bagaimana memaknai hidup dalam keberadaan fana kita di dunia,

Alasan/tujuan,hidup = kebahagiaan = uang = kepentingan
diakui atau tidak sebagian besar orang memang mengartikan hidupnya pada orientasi uang, mengaitkannya dengan alasan dan tujuan atas apa yang dia lakukan dan menjadikannya tolak ukur kebahagiaan dan mendasarkan diri sebatas demi terlaksananya kepentingan pribadi dan memikirkan bagaimana khalayak setelah kepentingannya terpenuhi, sehingga dunia disesaki para tamak , tamak diri dan tamak hati meski mereka cukup licik untuk bergerak sembunyi-sembunyi dan berlagak suci diantara masyarakat  kini,
dan agak sulit untuk menilai seseorang dalam kriteria ini mengingat sebenarnya mereka tak merasa begini, bahkan mungkin mereka atau kita tak menyadari jika mind set-nya mengacu pada definisi yang telah kita sebutkan tadi, memang tidak sepenuhnya salah jika sebagian besar kita berorientasi pada uang , siapa mahluk dibumi yang tak butuh uang ? jika ada mungkin jawaban itu berlumuran kemunafikkan, namun apakah kemudian uang cukup layak serta pantas menjadi alasan maupun tujuan hidup dan apakah uang sungguh menjamin kebahagiaan,
uang hanya lembaran kertas yang keluar dari percetakkan, yang tak jelas siapa yang mnciptakan, pikiran manusia sendiri yang sejak berabad-abad lalu membuat anggapan bahwa uang sesuatu yang sangat berharga, tidak hanya sebatas pada anggapan tapi juga tercermin pada kata dan perbuatan sehingga semua hal mengenai uang yang dipermasalahkan sekarang adalah hal yang diwariskan,
sebagai alat tukar uang memang memiliki jutaan kelebihan dibanding semua hal terdahulu yang jadi tandingan, semua sepakat bahwa keberadaan uang memang sangat bermanfaat, namun entah bagaimana dunia sendiri yang biarkan dirinya teracuni dan tidak lagi memandang dan memberikan uang pada kedudukan sebagai sekedar alat dan media pertukaran yang tak diragukan memiliki kemanfaatan pada kehidupan tapi tuas yang menjalankan perputaran kehidupan , kita ibarat boneka mekanik sederhana yang kemudian hanya bergerak jika tuasnya diputar sejenak, bahkan menempatkan uang setara tuhan yang menentukan takdir umat.
Huh ! meskipun jika kita menyadari sekarang, apakah kemudian itu cukup punya pengaruh ? tidak , kita sudah terjebak dan terlanjur jatuh terlalu jauh, semua implikasi atas yang kutulis ini hanya coba tunjukkan padamu jika dunia lebih dari sekedar yang kau tahu,
Entah bagaimana setiap hal kini tak terlepas dari uang, entah itu pekerjaan yang kita lakukan baik perniagaan atau apapun yang semacam……mengarah pada sebuah tujuan untuk mendapatkan uang, bisa dikatakan tak ada yang salah memang namun jika kemudian kita jadi lebih beranggapan bahwa semua hal yang kita dapatkan didunia dalam bentuk sandang, pangan atau papan adalah berkat keberadaan uang dan melupakan bahwa yang menjadikan penting adalah usaha dan jerih payah yang kita lakukan , uang hanyalah konsekuensi atas semua yang kita usahakan…..uang adalah kepantasan yang hak atas setiap kewajiban yang kita jalankan
Dalam masa kini manusia tak segan terlibat pertempuran dengan lainnya untuk uang, uang pun didaulat sebagai episentrum suatu keilmuan, dijadikan kajian pengetahuan yang kemudian dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan…menciptakan sosok –sosok berideologikan uang , mengubah kata dalam ungkapan montesque, “dari uang, oleh uang , dan untuk uang “
“uang tak kenal saudara “ pun ungkapan bodoh dan super tolol dari orang-orang yang hanya mengedepankan dirinya diatas semua hal didunia, uang memang tak kenal saudara …..karena memang uang hanya lembaran kertas , benda mati....sekedar metafora yang tak personifikasi, tak mengenal saudara ? uang tidak, tapi apakah kemudian kita juga tidak,?
Kita kemudian mempelajari sebuah insting naluriah , insting khas manusia tentang bagaimana mendapatkan uang…..dengan apapun cara dan jalan,
Tidak, aku tak mengatakan bahwa kita harusnya tak butuh uang …… bagaimanapun kita memang membutuhkan uang sebagai komoditi pemenuh kebutuhan, namun cobalah untuk sedikit menghargai jerih payah yang telah kita lakukan….lebih menganggapnya sebagai alasan utama terpenuhinya kebutuhan setelah doa dan kehendak tuhan, hingga pada titik ini kita mampu menempatkan uang pada kedudukan yang sepantasnya yaitu hanya sebatas media dan konsekuensi atau reward atas usaha serta kerja keras kita,
Dari semua kata yang coba ku ungkapkan tidakkah kita dapat menarik garis perak dari langit kelabu kita untuk  berhenti mengudara dan turun sejenak terangi hati kita, bahwa kebahagiaan tak hanya tentang uang….tak sepadan untuk sebuah tujuan keberadaan kita bukan ? saat bencana datang….tsunami, badai topan atau apalah jenis lainnya yang begitu banyak kini menantang eksistensi kelangsungan kita….apakah gundukkan uang sekalipun akan meluluhkan alam sekedar berpikir dua kali untuk menghancurkan kita, memusnahkan peradaban dunia.


Jangan biarkan hal yang kita lakukan didasari alasan untuk uang

        Jangan biarkan hal yang kita lakukan didasari alasan untuk uang ? siapa yang dapat menyangkal bahwa sebagian besar kita menjadikan uang alasan atas apa yang kita lakukan dan hanya sedikit sekali yang mampu bijak mematri dirinya pada alasan-alasan lumrah, meski sederhana namun lebih bermakna,
Cobalah sejenak melihat sekitar kita, mungkin diantara bidang pekerjaan tertentu di luaran sana atau yang mungkin sedang anda geluti saat membaca semua yang ku utarakan,tidakkah sedikit terbersit tanya mengenai hal yang menjadikan alasan atas apa yang mereka kerjakan….uang ? kurasa tak sulit bagi kita menyimpulkan demikian dan mungkin hanya sedikit diantaranya yang memiliki alasan lebih mulia, kurasa dunia memerlukan mereka…..orang – orang yang memang mengerjakan sesuatu dengan tulus dan mungkin dengan alasan yang lebih anggun, untuk keluarga ? membiayai sekolah adik-adiknya ? atau mungkin untuk membiayai dirinya agar tetap dapat sekolah ?.
                Agar pemaparan tak rancu kukira perlu untuk kita lebih spesifik memandang pada dunia kerja sebagai implementasi dan analogi tepat dalam menelaah permasalahan ini, juga adalah karena dunia kerja memang identik berhubungan nyata pada perputaran dan regulasi uang terhadap para pekerja sebagai subjek maupun objeknya,
Dunia kerja atau aku lebih suka menyebutnya dunia orang dewasa karena dalam sudut pandangku tidak satupun anak-anak dimanapun dan dalam keadaan apapun dapat terkehendaki untuk bekerja meski pada kenyatannya pun tidaklah demikian namun entahlah aku hanya memberikan skema ideal saja, berhenti sampai sana mungkin pertanyaannya adalah mereka yang berbadan besar, usia setengah jalan, berpendidikan mapan ….. apakah itu cukup mendeskripsikan apa itu dewasa ? bagiku tentu tidak.


Tidakkah mereka yang mengaku dirinya dewasa dan telah berada dalam tahap bekerja justru mengajarkan pada generasi – generasi penerus mereka tentang bagaimana bertindak bak hewan, sekali lagi kukatakan jika tidak semua demikian namun sebagian besar kurasa cukup memberikan pencitraan yang demikian, para pekerja yang saling berkompetisi dan menghalalkan segala cara untuk kepentingan masing-masing individu mereka,  bersyukurlah masih tersisa segelintir orang-orang baik dengan tujuan mulia karena jika tidak mungkin tuhan sudah membenamkan seisi kita kedasar kenistaan yang dalam,
Huh ! realita yang mungkin disadari atau tidak berada diantara kita, mereka yang menyebut dirinya dewasa sanggup saling menjatuhkan dan menghantam sesamanya dengan hujatan-hujatan hanya agar mereka terlihat lebih baik dihadapan seseorang yang mereka anggap memiliki kedudukan tinggi , seseorang yang mereka sebut atasan….gila ! kurasa persepsi materialistis yang diciptakan uang juga menjadikan sebagian orang-orang dengan keberuntungan dan harta kekayaan disembah layaknya dewa.
                Kembali pada permasalahan, sungguh aku tidak mengatakan jika bekerja / melakukan sesuatu untuk atau dengan alasan karena uang adalah sesuatu yang salah, hanya saja esensinya yang mungkin patut dipertanyakan…..salah jika itu kemudian mengikis rasa persaudaraan , salah jika itu membuat kita menghiraukan sisi kemanusiaan yang semakin menipiskan sekat perbedaan antara kita dengan hewan.
Meski kenyataan hidup memaksa kita untuk bekerja dan mengharapkan sejumlah upah (uang) dari perusahaan atas hal yang kita kerjakan namun kita bisa mulai mendidik diri kita untuk menyisipkan tujuan mulia didalam pengharapan kita mengenai upah, mungkin dengan tujuan demi kebaikkan keluarga dan orang lain diluar diri kita, juga pada pemahaman bahwa atas berkah tuhan dan jerih payah kitalah semua yang kita dapatkan bukan karena perusahaan , atasan atau mereka yang berada dipuncak kedudukan karena apa yang mereka berikan adalah suatu kewajiban yang memang harus mereka penuhi sebagai konsekuensi keuntungan yang mereka peroleh dari jerih payah kita, jadi mereka tidak berada pada titik yang istimewa.
                Istimewakanlah diri kita dan apa yang kita usahakan dan lebih utamanya adalah menempatkan tuhan sebagai yang pemberi segala sesuatu dalam hidup kita, dengan pemahaman dan dokrinisasi demikian pada diri kita kurasa itu lebih dari cukup menjauhkan kita dari pennyembahan terhadap manusia dan tindakan saling menjatuhkan  diantara kita dalam dunia pekerjaan karena sungguh jika kita mengharapkan citra baik dihadapan mereka yang kalian sebut atasan bagiku adalah omong kosong belaka,